Nonton Sinetron, Remaja Jadi Rentan Konflik
Sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi sebagian besar
berkiblat pada kebudayaan metropolitan ternyata mempunyai pengaruh
negatif bagi remaja yang sering menontonnya, dan bahkan mereka rentan
terhadap konflik.
"Jika mental dari para remaja kita di daerah
belum siap terhadap pengaruhnya, tidak hanya rentan terhadap konflik
tetapi juga mereka akan salah dalam pergaulan dan bersikap, kehilangan
identitas pribadi, dan sulit menyesuaikan dengan komunitas di
tempatnya," kata seorang pakar kebudayaan populer Universitas
Diponegoro (Undip) Semarang, Drs. Redyanto Noor, M.Hum., di Semarang, Selasa.
Saat
ini, kata dia, sinetron-sinetron remaja yang ditayangkan di televisi
sebagian besar berkiblat pada kebudayaan kota metropolitan Jakarta,
yang berkolaborasi dengan kemajuan media massa elektronik sehingga
penayangannya sampai ke daerah-daerah.
Redyanto sendiri
menyatakan tidak setuju dengan adanya penayangan sinetron tersebut
karena yang ditampilkan tak seragam, seolah ada pengakuan bahwa remaja
yang modern itu harus seperti yang ada di Jakarta.
"Padahal pengertian modern itu kan lebih ke cara berpikir remaja itu sendiri," katanya.
Ia
memprediksi penayangan sinetron itu akan mengakibatkan evolusi
kebudayaan yang akan mengubah kebudayaan-kebudayaan di daerah secara
perlahan. Bahkan, kata dia sekarang yang terjadi adalah revolusi yang
cepat, bukan hanya evolusi yang perubahannya berlangsung secara
perlahan.
"Mula-mula yang diubah dari remaja-remaja di daerah itu
adalah penampilan, seperti pakaian, model rambut, konsumsi makanan, dan
kendaraan," katanya.
Namun, di sisi lain diakuinya bahwa tidak
semua sinetron yang berbau kebudayaan metropolitan itu berdampak buruk.
Ada pula sisi positifnya, yakni remaja-remaja di daerah menjadi lebih
berpeluang untuk mengembangkan pengetahuan yang hampir tanpa batas
dengan adanya penayangan sinetron yang menampilkan kemajuan teknologi.
Referensi : kapanlagidotcom