Archive for September, 2007

Nonton Sinetron, Remaja Jadi Rentan Konflik

Tuesday, September 25th, 2007

Sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi sebagian besar
berkiblat pada kebudayaan metropolitan ternyata mempunyai pengaruh
negatif bagi remaja yang sering menontonnya, dan bahkan mereka rentan
terhadap konflik.

"Jika mental dari para remaja kita di daerah
belum siap terhadap pengaruhnya, tidak hanya rentan terhadap konflik
tetapi juga mereka akan salah dalam pergaulan dan bersikap, kehilangan
identitas pribadi, dan sulit menyesuaikan dengan komunitas di
tempatnya," kata seorang pakar kebudayaan populer Universitas
Diponegoro (Undip) Semarang, Drs. Redyanto Noor, M.Hum., di Semarang, Selasa.

Saat
ini, kata dia, sinetron-sinetron remaja yang ditayangkan di televisi
sebagian besar berkiblat pada kebudayaan kota metropolitan Jakarta,
yang berkolaborasi dengan kemajuan media massa elektronik sehingga
penayangannya sampai ke daerah-daerah.

Redyanto sendiri
menyatakan tidak setuju dengan adanya penayangan sinetron tersebut
karena yang ditampilkan tak seragam, seolah ada pengakuan bahwa remaja
yang modern itu harus seperti yang ada di Jakarta.

"Padahal pengertian modern itu kan lebih ke cara berpikir remaja itu sendiri," katanya.

Ia
memprediksi penayangan sinetron itu akan mengakibatkan evolusi
kebudayaan yang akan mengubah kebudayaan-kebudayaan di daerah secara
perlahan. Bahkan, kata dia sekarang yang terjadi adalah revolusi yang
cepat, bukan hanya evolusi yang perubahannya berlangsung secara
perlahan.

"Mula-mula yang diubah dari remaja-remaja di daerah itu
adalah penampilan, seperti pakaian, model rambut, konsumsi makanan, dan
kendaraan," katanya.

Namun, di sisi lain diakuinya bahwa tidak
semua sinetron yang berbau kebudayaan metropolitan itu berdampak buruk.
Ada pula sisi positifnya, yakni remaja-remaja di daerah menjadi lebih
berpeluang untuk mengembangkan pengetahuan yang hampir tanpa batas
dengan adanya penayangan sinetron yang menampilkan kemajuan teknologi.

Referensi : kapanlagidotcom

Susah Ngomong? Katakan Saja Dengan Bunga

Sunday, September 16th, 2007

Mungkin sudah kuno saat Anda mendengar orang berkata, “Katakanlah dengan bunga”. Tapi tidak bisa dipungkiri juga jika kalimat yang dianggap tradisional itu bisa mewakili perasaan kita saat diperlukan. Misalnya saja saat kita hendak mengatakan selamat datang, permintaan maaf, ungkapan cinta, dan masih banyak lainnya. Bunga-bunga yang cantik itu akan memberikan kesan tersendiri bagi si penerima. Dan di beberapa tempat di dunia, bunga selain dijadikan dekorasi, juga dijadikan benda spiritual, maupun ritual.

Bunga juga tidak dipilih secara acak. Selama beberapa tahun orang mengelompolan bunga sesuai dengan artinya. Contohnya, akasia yang berarti cinta yang terpendam, cinta suci, atau kecantikan; Aster, menjadi simbol cinta sekaligus keindahan; Pink Carnation, mengartikan ‘aku tidak akan melupakanmu’, sedangkan untuk warna kuningnya, mengandung arti penolakan atau kekecewaan; Tulip diartikan sebagai Anda memiliki pancaran dalam senyuman Anda.

Ada juga jenis bunga yang dinamakan sebagai bunga ulang tahun atau birthday flower. Mereka yang lahir pada bulan Februari memiliki bunga mawar dan violet sebagai bunga ulang tahun. Sementara lakspur dan lili air adalah bunga ulang tahun untuk mereka yang lahir di bulan Juli. Bunga bakung maupun poinsettia, khusus untuk mereka yang berulangtahun pada bulan Desember.

Untuk lambang zodiak, bunga juga bisa mengandung bermacam-macam arti. Untuk Aries yang bersemangat dan suka petualang lebih condong dilambangkan dengan mawar merah, tulip, dan amaryllis. Sedangkan Scorpio, dilambangkan dengan kembang sepatu, peony, dan amaranthus.

Jika dilihat dari warna, tiap-tiap bunga dengan warna berbeda bisa ‘berbicara’ mewakili mereka, baik diinterpetasikan secara keilmuan bahkan tradisional.

Tradisional:
- Merah, melambangkan romantis
- Kuning, melambangkan persahabatan
- Putih, melambangkan penghormatan
- Peach, melambangkan tanda terima kasih
- Merah muda, melambangkan penghargaan
- Oranye, melambangkan api semangat
- Ungu, melambangkan cinta pada pandangan pertama

Sedangkan jika dibedakan dari segi keilmuan, warna diketahui bisa membawa efek ke dalam pikiran. Jadi, sebuah warna bisa mempengaruhi kesenangan, tekanan dalam tubuh, membawa energi, atau bersifat menenangkan. Dilain pihak, bunga juga bisa digunakan sebagai pengobatan. Misalnya:
- Hitam, bisa menimbulkan tenaga, percaya diri, dan meningkatkan kemampuan
- Biru, memberikan ketenangan dalam pikiran dan jiwa. Warna ini juga bisa menurunkan tekanan darah tinggi dan hipertensi
- Merah, digunakan untuk memacu semangat dan pembangkit gairah
- Hijau, memberikan relaksasi pada pikiran dan tubuh
- Ungu, menimbulkan rasa tenang dan damai
- Merah muda, memberikan ketenangan
- Kuning, mencerminkan energi dan menyebarkan cahaya

Di seluruh dunia, ada banyak sekali tradisi dan kepercayaan, juga puisi-puisi yang bercerita tentang keindahan dan keunikan bunga. Beberapa bunga digunakan sebagai ’syarat’, ritual, maupun perayaan. Bunga juga dianugrahkan ke bumi agar bisa kita manfaatkan dan menolong kita sebagai wakil untuk mengungkapkan perasaan yang tak mampu disampaikan lewat kata-kata.

Referensi : kapanlagi dot com

Ciuman Lebih Berarti Bagi Wanita Daripada Pria

Tuesday, September 11th, 2007

Bagi setiap orang ciuman selalu memiliki kesan yang berarti, tapi
tahukah Anda jika arti ciuman bagi pria dan wanita itu ternyata
berbeda. Banyak penelitian menegaskan bahwa wanita ternyata menikmati
ciuman lebih lama daripada pria. Itulah kenapa para wanita lebih mudah
mengingat pengalaman ciuman romantis mereka yang pertama kali dibanding
pria.

Tim dari New York State University melakukan penelitian
pada 1000 pelajar tentang skala dan arti berciuman bagi wanita dan
pria.

Dari penelitian yang dilaporkan Evolutionary Psychology,
dan dikutip dari BBC, Senin (03/09/07), wanita menggunakan ciuman
sebagai sebuah cara untuk merespon rasa suka pada pasangan mereka,
untuk mempertahankan keintiman, dan sebagai pengukur hangat atau
dinginnya sebuah hubungan. Sementara pria lebih menilai ciuman untuk
mendongkrak gairah seksual mereka.

Dari kuisioner yang didapat,
diketahui pria kurang peduli saat mereka harus berhubungan seks, dan
cenderung menomorduakan ciuman, karena ciuman bukan inti dari seks yang
mereka lakukan.

Ketua penelitian Dr Gordon Gallup,
menyebutkan pria bisa berhubungan seks dengan seseorang tanpa
berciuman, berhubungan seks dengan seseorang yang tidak menarik, bahkan
bersedia berhubungan seks dengan wanita yang mereka nilai masuk
kategori bad kisser.

Dr Gallup juga menemukan
persepsi yang berbeda akan ciuman pada hubungan pendek dan jangka
panjang, meskipun dalam dua periode ini ciuman tetap menjadi ritual
yang berarti bagi wanita.

Pada wanita yang menjalin hubungan
jangka panjang, ciuman tak hanya menjadi sebuah aktivitas penting dari
keseharian mereka. Lebih dari separuh sepakat ciuman sebagai cara
mempertahankan hubungan. Berbalik dengan pria yang menganggap ciuman
kurang begitu penting sejalan dengan lamanya hubungan.

Cara berciuman yang disukai wanita dan pria juga berbeda. Pria lebih menyukai ciuman basah atau ciuman lidah.

Meski
ciuman adalah insting dasar manusia, namun dalam perkembangannya gaya
berciuman akan terus berkembang untuk menjaga sebuah hubungan, meskipun
lebih banyak yang menggunakannya sebagai variasi lain untuk
meningkatkan gairah seksual, jelas Dr Gallup.

Menurut Gallup
ciuman bisa bervariatif tiap negara dan budaya. Mulai dari ciuman yang
sifatnya sakral sampai ciuman meningkatkan gairah antar pasangan.

Sementara itu Dr Glenn Wilson, pakar relationship
dari Institute of Psychiatry, London, menyebutkan: "Ciuman digunakan
setiap orang sebagai penguat ikatan dan penguji mekanisme.

"Namun
dalam kenyataannya wanita lebih sering didiskriminasikan daripada pria.
Pria dengan mudah keluar dan menebar benih mereka, sementara wanita
harus bertanggungjawab dengan konsekuensi yang mereka ambil," tambah
Wilson.

referensi :
kapanlagi dot com

Hobi ‘Clubbing’? Waspadai Kerusakan Pendengaran Permanen!

Monday, September 3rd, 2007

Sebuah survei menyebutkan bahwa sembilan dari sepuluh orang
menunjukkan tanda kerusakan pada alat pendengaran, setelah menghabiskan
sepanjang malam mendengarkan musik keras di klub atau pub.

RNID,
sebuah lembaga amal yang melakukan survei terhadap sembilan juta orang
yang terancam menderita tuli atau mengalami gangguan pendengaran,
mengatakan bahwa dampak musik keras itu beragam, antara lain gema di
telinga atau ketidakmampuan mendengar dan hingga kini masih belum
diketahui cara mencegah hal itu.

Menurut mereka, kekuatan suara
dari musik rock yang disuguhkan untuk para penonton dapat mempunyai
kekuatan hingga 125 desibel, dibandingkan dengan kekuatan suara sebesar
110 desibel pada seseorang di samping mesin bor hidup.

Ketua
pelaksana RNID, Dr John Low, mendesak pemerintah menetapkan kadar
kebisingan bagi penonton yang menghadiri konser musik atau tempat
hiburan dengan musik keras.

"Kita semua terbiasa dengan pesan
mengenai perilaku seks aman dan penggunaan krim pelindung kulit dari
sinar matahari," kata Low, "Namun kurangnya bimbingan mengenai bahaya
musik keras berarti bahwa angkatan pencinta musik dapat mengadapi bom
waktu berupa kekurangan pendengaran."

"Paparan musik dengan
volume tinggi secara rutin di klub, pub atau bar, merupakan cara mudah
menyulut ’sumbu’ bom waktu tentang kadar kebisingan, yang dapat merusak
pendengaran pengunjung untuk selamanya," katanya.

Lebih dari
separuh dari 1.381 orang disurvai mengatakan bahwa mereka mengunjungi
bar setiap pekan, tempat mereka harus berteriak untuk dapat berbicara
dengan orang lain agar perkataan mereka dapat didengar lawan bicaranya,
karena musik sangat hingar-bingar.

Duapertiga di antara obyek survei menganggap bahwa kerusakan pendengaran tidak akan merusak mutu hidup mereka.

RNID
mengatakan bahwa orang seharusnya mempertimbangkan menggunakan
pelindung telinga khusus di klub, yang dapat mengurangi volume musik
tanpa merusak mutu suara.

Selain itu, mereka juga harus
beristirahat lima menit setiap satu jam mendengar musik bervolume
tinggi dan berdiri jauh dari tempat pengeras suara untuk membantu
melindungi telinga mereka