‘Loft’ of My Life
Monday, August 27th, 2007Di Indonesia, mungkin masih asing dengan loft, yaitu tempat
tinggal ‘mini’ berupa loteng yang bisa menampung berbagai aktivitas
pemiliknya. Sekilas mungkin tampak seperti apartemen, tapi loft biasanya berukuran jauh lebih kecil. Untuk memenuhi life style, loft
mulai banyak dilirik oleh kaum berada di kota metropolis, khususnya
eksekutif muda sampai kalangan artis yang menginginkan gaya hidup masa
kini.
Aslinya, loft merupakan tempat tinggal ‘buangan’, karena tempatnya berupa loteng-loteng sempit. Loft
dulunya sebagai tempat pelarian para seniman di Manhattan, karena
mereka tidak memiliki tempat tinggal akibat tergusur kaum borjuis dan
pabrik-pabrik yang menempati tanah mereka. Kemudian para seniman
tersebut membangun tempat/ruangan berukuran kecil untuk memenuhi
kegiatan mereka untuk tidur, makan, melukis, mandi, dan lainnya.
Loft
mulai dikembangkan di Los Angeles pada 2001. Dimana adanya
undang-undang yang memaksa penduduk untuk tinggal tidak berdekatan
dengan pabrik maupun perkantoran. Hal inilah yang mempelopori para
pengembang untuk mendirikan loft-loft baik yang murah sampai yang mahal
sesuai kebutuhan.
Saat ini jumlah loft di Indonesia masih
bisa dihitung. Mungkin sementara ini hanya ada di Jakarta. Dan jangan
ditanya mengenai harganya. Kita harus merogoh kocek puluhan bahkan
ratusan juta, bahkan ada pula loft yang harganya lebih mahal daripada membeli rumah beserta tanahnya.
Maklumlah,
banyak orang yang lebih mengagungkan prestise dan manyampingkan materi.
‘Loteng’ yang harganya selangit itu biasanya diisi dengan furnitur yang
lengkap, bahkan bisa diisi sesuai selera warna, tipe, maupun tekstur
dari pemilik loft.