aku tau surat ini tidak akan pernah sampai di tanganmu, karena aku tidak pernah berniat untuk mengirimkannya.
aku hanya ingin bercakap-cakap dalam diam, aku ingin bicara dengan
angin, dengan pohon yang terangguk angguk menyetujuiku ataupun
bergoyang-goyang menolak mentah semua ideku. aku ingin berbicara dengan
nyamuk yang masih saja sibuk meskipun tanganku terkibas ke sana kemari,
dengan malam, dengan awan… semua tentang dia.
dia yang selalu out off your reach, dia yang selalu ada selangkah di
depanmu, dia yang tidak pernah terlihat mengerti kamu dengan lebih
mendalam, dia yang perlahan tapi pasti berubah jadi racun dan telah
lama tersimpan di jantungmu.
separuh dari dirimu menginginkan tangan dia untuk merengkuhmu dan
melindungimu. dan untuk kesekian kalinya dia jatuh cinta padamu, ingin
memilikimu seutuhnya, ingin selalu berada di dekatmu, ingin dan ingin
mendekapmu, sangat ingin menyusupkan kepala kecilmu ke dadanya, benar
benar berharap untuk menjadi bahumu di saat kau terpuruk dalam duka,
ingin bersorak dan tertawa riang dikala kau bergembira tanpa tau kabar
baik apakah itu. separuh dirimu ingin dia jatuh cinta padamu untuk yang
kesekian kalinya, tanpa dia harus menoleh membelakangimu. dan hidup pun
akan terasa lebih mudah bagi separuh dari dirimu.
tapi sisa dirimu ingin dia untuk datang padamu, menamparmu,
mendorongmu jatuh ke jurang paling nista dalam kehidupanmu, membuang
hatimu yang telah terlanjur berada di genggamannya, membencimu hingga
muak hingga dia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk
menggambarkan kemuakan yang dia rasakan terhadapmu. kamu ingin dia
untuk menertawakan kebodohanmu karena kamu bisa jatuh cinta seperti ini
padanya, menyalahkan kekhilafanmu sehingga kamu bisa lepas kendali dan
menyerahkan secuil hatimu padanya tanpa meminta segenggam hatinya
untukmu sebagai gantinya. betapa kamu menginginkan dia untuk datang ke
hadapanmu dan membencimu dengan seluruh sisa nafas yang dimilikinya.
hidupmu hidupnya akan terasa lebih mudah.
ah angin, andai hidup ini seperti tulisan. membeku di satu titik
tanpa adanya perubahan. maka kamu akan memilih hanya satu momen saja
dengannya, meskipun itu hanya satu momen berdurasi satu detik saja,
momen penuh keindahan dimana dia hanya untukmu dan tidak untuk hal lain
yang selalu sukses membuat dia memalingkan mukanya darimu.
kamu hanya ingin memiliki satu momen selama satu detik itu yang terbekukan dan abadi dalam hidupmu.
tapi nyamuk, hidup itu mengalir. dia tidak pernah bisa kamu
tundukkan, hidup menguasaimu, menguasai keinginanmu untuk membeku.
hidup ini selalu berubah, berkembang, memuai, dan melarutkan apapun
yang diam untuk ikut mengalir bersama arus agungnya yang penuh rahasia,
kejutan dan penuh kejujuran. kamu pun tidak terkecuali.
kamu sudah mempertaruhkan seluruhnya untuk apa yang kamu anggap
benar, kamu pertaruhkan seluruhnya untuk rasa cinta yang kamu anggap
merupakan kebenaran tertinggi yang bisa kamu capai. tapi kamu sekarang
takut.
kamu takut untuk menoleh kebelakang, menoleh kemudian berhitung, berhitung atas banyaknya pengalaman kamu dan dia.
cinta butuh dipelihara, bahkan cinta yang paling agung pun harus
selalu dipelihara. ya, cinta yang paling agung pun masih membutuhkan
mekanisme dari kamu supaya cinta itu dapat bertahan selamanya dalam
hati dan otak kamu dan apalah artinya cinta kamu padanya dibanding
cinta agung tersebut.
cinta bukan suatu hadiah yang digantungkan di garis finish dan
kemudian dijadikan rebutan, tapi cinta telah ada semenjak kaki pertama
kamu melangkah untuk memilih. cinta selalu ada dalam setiap jejak
langkahmu, dalam setiap degup jantungmu, dalam setiap helaan nafasmu…
kamu selama ini berjalan beriringan dan bergandengan tangan dengannya
atas nama cinta… karena cinta adalah mengalami.
cinta adalah interaksi dari dua manusia supaya perubahan
masing-masing bisa dipantau dan tetap harmonis karena cinta bukan
sekedar berhala untuk disembah, tapi cinta pun tumbuh, mekar, mewangi
atau malah layu dan akhirnya menghilang… cinta itu hidup.
dan akhirnya di malam ini, di meja ini, kamu dikelilingi oleh semua
kenangan dan benda yang mengingatkan kamu akan dia. semua benda dan
kenangan yang tak ternilai harganya dalam kehidupanmu.
aku tidak heran jika kamu akan mulai tergugu dan menangis dalam sepi hanya bertemankan nyamuk dan angin.
Dia tidak pernah ingat utk menyimpan dirimu, dalam dompetnya, dalam
bingkai foto bapak presiden dan wapres, secuil foto utk ditempel di
pojok kanan atas cermin di kamarnya. dan bahkan dia pun tidak pernah
bersusah payah untuk menyimpan rupamu dalam hatinya. dia pasti tidak
tahu apa rasanya ketika menatap lekat-lekat satu sosok yang memenuhi
hatimu, mencoba membayangkan senyumnya dalam segala versi, rasa hangat
dari temperatur tubuhnya yang sangat kamu ketahui, dia tidak tau
rasanya.
dan kamu di sini, sendirian, berbagi semua kelemahan ini hanya
dengan angin yang mulai melemah meniupkan dayanya, dengan malam yang
secara pasti tergusur pagi, dengan nyamuk yang selalu menghindar dengan
gesitnya dan entah siapa berdiri di pojok itu.
hingga di detik ini, kamu berharap dia akan memahami betapa susahnya
berpisah dengan sesuatu yang aburb, dan kamu melakukan ini sendirian.
kamu mengucapkan perpisahan terhadap siapa?
tidak ada air mata laen yang ikut berduka untukmu, tidak ada tepukan
di bahu memaklumi kesedihanmu, tidak ada kata”jangan” yang kau harapkan
meluncur keluar dari mulutnya hanya supaya kamu bisa berbalik dan
memeluknya untuk kemudian tidak kau lepaskan lagi. tidak ada kata
berpisah atau peluk sayang untuk yang terakhir kalinya sebagaimana
tidak ada untuk yang pertama kalinya, tidak ada kata maaf yang kau
artikan sebagai penutup paling dramatis dari kesedihan yang absurb ini.
kamu merasa sepi dan ini adalah perpisahan paling sepi bagimu.
ketika surat ini sampai pada paragraf terakhir, tempat di mana kamu
letakkan semua doamu untuknya, semua pengharapan baik untuknya, masih
akan selalu ada secuil dari jiwamu yang tidak mau beranjak dari tepian
jurang ini, jiwamu itu akan tetap berharap dalam pengharapan absurb
bahwa ini semua hanyalah salah satu mimpi burukmu yang tidak akan
pernah berubah nyata.
dan kamu pun capek, capek dan tiada daya untuk memaksa sejumput
jiwamu itu untuk pergi bersama keseluruhan jiwamu yang laen, dan kau
pun membiarkan dia untuk bertahan di pengharapan absurbnya itu.
kamu tidak tahu akankah jiwa kecilmu itu akhirnya membenarkan
langkah pasrahmu untuk meninggalkan tepian itu dan kemudian ijwa kecil
itu meneriakkan namamu dan memintamu untuk menjemputnya ataukah dia
akan berubah menjadi lilin lemah yang akan selalu menjadi tujuanmu
untuk pulang dan kembali menemui tepian ini.
kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.
aku, yang merasakan apa yang kamu pikirkan dan rasakan.
aku, yang telah menuliskan dan menuangkan apa yang kamu rasa.
aku, yang tetap menuliskan beribu ribu surat cinta untukmu tanpa
pernah berani untuk mengirimkannya. surat surat yang masih tersimpan
dengan rapi dan tak akan pernah sampai ke tanganmu.