Archive for April, 2007

Ku biru ??

Monday, April 30th, 2007

Dalam kekalutan hidupmu, ku tahu bahwa beban itu susah,…

Ketika beban itu ada, kau berlari dan mencoba untuk menghilang dari kebisingan kotamu,..

Kau mencoba untuk kembali, mengganggu ketenangan air yang begitu teduh di bawah indahnya rembulan malam…

Suatu kali, kamu menjadi serigala tapi berbulu domba,..

Juga pernah suatu kali, kamu menjadi bidadari yang ngga pernah kehilangan arah,.

Akan kah kau tahu, bahwa biruku tak akan pernah ada lagi???

Ku berbisik " Akan kah birumu juga ada??"

* renungkan lah ini dunia,.. betapa berartinya dirimu jikalau engkau membuat dunia ini juga berarti..

Buruh

Monday, April 30th, 2007

A million workers working for nothing

You better give ‘em what they really own


We got to put you down


When we come into town

[John Lennon - Power to the People [hari buruh sedunia. menuntut kesejahteraan. menghentikan penghisapan. menuntaskan penindasan. walau pemimpin negeri tak pernah hadir. ribuan buruh tetap berada di jalan. berhadapan dengan pagar kawat berduri semata.

Sindrom Kekerasan IPDN (IPDN Violence Syndrome)

Monday, April 30th, 2007

IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) adalah nama baru dari STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri). Sekolah
ini adalah sekolah kedinasan yang dikelola oleh Departemen Dalam Negeri
untuk mendidik calon-calon aparat pemerintahan di Indonesia. Kematian
Wahyu Hidayat pada tahun 2003, telah membuka kebobrokan suatu sistem dan budaya “pembinaan”
yang telah ada semenjak STPDN berdiri. Apalagi setelah beberapa adegan
kebrutalan tersebut ditayangkan oleh beberapa media massa sehingga
menimbulkan gejolak kemarahan masyarakat terhadap STPDN pada waktu itu.

Kini sistem dan budaya pembinaan tersebut kembali memakan korban jiwa seorang praja yang bernama Cliff Muntu. Masyarakat seakan mengalami dejavu
dari peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Perubahan nama
STPDN menjadi IPDN terbukti bukan langkah yang tepat untuk
menghilangkan budaya kekerasan yang telah berakar kuat dan mendarah
daging dalam setiap insan civitas akademik kampus tersebut. Ilustrasi dari blog ini sangat tepat mencerminkan keadaan IPDN sekarang ini.

Inu Kencana Syafei (55), seorang pengajar IPDN yang terkenal vokalis
dalam membongkar kebobrokan sistem dan budaya kekerasan di STPDN/IPDN
menyebutkan bahwa selama 1990-2005, terdapat 35 praja yang tewas dan
hanya 10 kasus yang terungkap. Selain kekerasan juga ditemui praktek
sex bebas yang dilakukan para praja di lingkungan civitas STPDN/IPDN. [Detik.Com]

Menurut hemat saya, apa yang dikemukakan oleh Inu Kencana Syafei
telah menunjukkan betapa buruknya sistem pendidikan dan pembinaan di
sekolah tersebut. STPDN/IPDN selama bertahun-tahun telah
membuat suatu sistem pendidikan yang memelihara budaya kekerasan
senioritas terhadap junioritas dengan dalih pembinaan.
Sistem tersebut pada akhirnya menciptakan pribadi-pribadi yang “sakit jiwa” dengan menunjukkan gejala-gejala khusus, sebagai berikut :

1. Adanya waham super-power yaitu keyakinan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi dilihat dari senioritas.
Waham
ini biasanya mulai muncul ketika praja mulai memiliki adek kelas, mulai
mendapat hak untuk dihormati, dan juga hak untuk memberikan hukuman
pada adek kelas. Waham ini akan membuat orang selalu haus
penghormatan dan kekuasaan, menganggap dirinya adalah pemegang
peraturan dan juga bisa jadi menjadi hukum itu sendiri demi menjaga
perasaan berkuasa yang terus ada dalam pikirannya.
Mereka merasa bertanggung jawab penuh terhadap penegakan peraturan dalam sistem tersebut.

2. Waham superior vs inferior (hukum rimba), yaitu keyakinan berlebihan bahwa dirinya harus kuat agar dapat bertahan.
Waham ini dipelihara oleh suatu sistem baik melalui indokrinasi maupun
dengan cara yang lain. Sebelum memasuki IPDN, seseorang harus berjuang
untuk lolos seleksi dalam serangkaian tes, orang yang bodoh atau lemah
tentunya akan tersisih dan ini disebut dengan seleksi alam. Demikian
halnya juga ketika menempuh pendidikan di IPDN, mereka yang lemah akan
tersisih dan keluar dari sistem. Waham hukum rimba ini membuat
praja-praja IPDN menerima pembinaan sebagai suatu cara untuk bertahan
dalam sistem tersebut. Mereka juga malu untuk melaporkan pembinaan yang
berlebihan karena hal itu akan menunjukkan kelemahan mereka
(inferioritas).

3. Kedua waham tersebut pada akhirnya memunculkan waham kebesaran dan kebanggaan (delusion of grandeur), yaitu keyakinan bahwa dirinya memiliki kekuasaan dan kekuatan luar biasa (berbeda dengan orang kebanyakan).  Mereka
membanggakan diri jika berhasil melewati berbagai macam pembinaan.
Bahkan mereka bangga jika mengetahui bahwa mereka tahan pukul meski
tulang dadanya retak, ulu hatinya memar, ataupun tanda-tanda
penganiayaan fisik lainnya.
Kebanggaan ini pada akhirnya membuat para praja merasa diri eksklusif, berbeda dengan orang kebanyakan dan tidak mau membaur. Kebanggaan menjadi senior akan memunculkan waham super-power dengan waham hukum rimba sebagai acuan berperilakunya. Ketiga
waham ini menjadi suatu lingkaran setan yang terus berputar, apalagi
tujuan pendidikan di IPDN yaitu menciptakan pejabat pemerintahan yang
memiliki kekuasaan, merupakan lingkungan pendukung yang kuat bagi
tumbuhnya ketiga waham tersebut.

4. Perilaku kekerasan pada dasarnya adalah perilaku insting
primitif manusia untuk bertahan hidup dan menunjukkan kekuatan dan
kekuasaan.
Lingkaran setan waham-waham tersebut pada akhirnya
menimbulkan perilaku kekerasan, baik sebagai unjuk kekuatan dan
kekuasaan maupun sebagai saluran ekspresi emosi terpendam (balas
dendam). Keras lemahnya pukulan menunjukkan kehebatan dan kekuasaannya, demikian pula dengan banyaknya pukulan yang diterima.


Ipdnvsyndrome

 

Itulah Sindrom Kekerasan IPDN (IPDN Violence Syndrome), sindrom ini tidak hanya terjadi pada IPDN namun potensial terjadi pada sekolah-sekolah yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Penerapan disiplin semi-militer
2. Tujuan pendidikan adalah membentuk kader-kader pemegang kekuasaan
3. Adanya golongan tingkatan/pangkat dalam satu sekolah
4. Tinggal dalam asrama
5. Jumlah pengasuh terbatas

Saya sendiri pernah bersekolah dengan ciri-ciri seperti itu, dan
mengalami masalah senioritas ringan. Saya memang beruntung tidak
mendapat perlakuan intimidasi dari kakak kelas. Berbeda dengan nasib
teman saya yang tidak begitu mujur karena dia mendapat intimidasi
habis-habisan dari kakak kelasnya. Setelah saya berada di tingkat
akhir, saya malah sering melihat teman-teman angkatan saya memukuli
adek-adek kelas di kamar mandi ataupun di tempat gelap. Beberapa waktu
yang lalu seorang adek kelas teman saya keluar dari sekolah tersebut,
karena mengalami intimidasi dari kakak-kakak kelasnya. Saya tidak tahu
apakah keadaan budaya kekerasan di sekolah tersebut sudah berubah atau
belum. Sistem sekolah dan tujuannya sangat baik, hanya saja kurangnya
sistem pengawasan telah memberikan kesempatan munculnya perilaku
kekerasan (intimidasi) dari kakak kelas pada adek kelas.

Budaya kekerasan senioritas-junioritas memang berpotensi muncul di
sekolah-sekolah dengan ciri-ciri yang telah saya sebutkan di atas. Oleh
karena itu langkah-langkah untuk menghilangkan budaya kekerasan
senioritas tentunya mengacu pada penghilangan ciri-ciri potensial
lingkungan pendukung dari sistem tersebut.

Menurut saya, budaya kekerasan yang terstruktur dan melembaga
seperti di IPDN sangat sulit dihilangkan dan hanya dapat dicegah atau
diminimalisir kesempatannya. Dalam kasus IPDN beberapa langkah fundamental yang perlu dilakukan  adalah sebagai berikut :

1. Bubarkan Sistem Pendidikan dan Pembinaan IPDN !!!
Penggantian nama IPDN saja adalah sebuah langkah yang buruk.
Peningkatan pengawasan pengasuh maupun pemasangan CCTV juga sebuah
langkah yang kurang baik karena para praja masih bisa mencuri-curi
kesempatan dalam kesempitan. Belum lagi jika pengasuhnya yang “sakit
jiwa”? Tentu akan terjadi induksi terhadap para prajanya.

Pembubaran suatu sistem adalah jalan terbaik, namun demikian langkah
ini tetap tidak bisa menghilangkan sindrom IPDN begitu saja. Perlu suatu rehabilitas mental dan intervensi sistem yang meruntuhkan waham-waham yang melekat kuat.

Dengan demikian pembubaran yang saya maksud bukanlah pembubaran
lembaga pendidikan, namun lebih ditekankan pada perombakan total sistem
pendidikan yaitu dengan mengganti rektor, dan menyeleksi kembali
pengajar dan pengasuhnya. Langkah selanjutnya adalah mengganti sistem
pendidikan yang mengarah pada rehabilitasi mental para praja.

2. Pembentukan Sistem Rehabilitasi Praja IPDN
Waham yang tertanam kuat pada akhirnya akan dapat kembali berkembang
jika menemukan sistem lingkungan yang mendukung. Oleh karena itu perlu
diperhatikan lingkungan sistem rehabilitasi bagi para siswa IPDN untuk
meruntuhkan waham-waham tersebut. Contohnya :

- Memisahkan tempat studi menurut tingkatan praja. Misalnya praja
tingkat satu di kota A, praja tingkat dua di kota B, dan praja tingkat
tiga di kota C. Namun jika langkah ini dirasa sulit, sebaiknya fokus
pada pembauran tingkatan praja yaitu meniadakan sistem
tingkatan/pangkat seperti halnya di universitas pada umumnya.

- Mengirimkan mereka KKN di masyarakat, Live In di pedesaan, ataupun
penugasan mereka menjadi orang-orang kecil sebelum mereka menjadi
pejabat agar mereka dapat hidup membaur dengan seluruh lapisan
masyarakat.

- Tindakan tegas dengan mengeluarkan praja yang terbukti melakukan
kekerasan dan tindakan kriminal lainnya tanpa pandang bulu. Hal ini
akan menjadi shock therapy bagi praja yang lainnya untuk menghindari tindakan kekerasan.

- Penerapan disiplin militer dalam batas-batas kewajaran, dan hanya
diberikan oleh pengajar ataupun petugas penegak disiplin yang ditunjuk.
Tentunya kualitas psikologis petugas penegak disiplin harus
diperhatikan dengan baik.

- Peniadaan semua hukuman fisik dan menggantinya dengan sistem poin
(rewards) yang harus dipenuhi sebagai syarat untuk mencapai kelulusan.
Menurut teori Thorndike, dan Skinner hukuman tidak efektif untuk
membentuk perilaku, namun hanya efektif untuk mengurangi perilaku
dilakukan.

Sistem pendidikan adalah tulang punggung suatu bangsa dalam
membangun karakter intelektual manusia-manusia Indonesia yang tangguh.
Sistem pendidikan yang penuh kekerasan hanyalah menciptakan robot-robot
tangguh namun berotak dengkul yang siap pukul dan memukul. Manusia
yang tangguh bukan dilihat dari ketangguhan tahan pukul dan memukul,
tapi ketangguhan untuk menjadi manusia-manusia cerdas yang kritis dalam
berpikir dan mengutamakan hati nurani dalam bertindak.

**Waham menurut KBBI Balai Pustaka 1989 adalah keyakinan atau
pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata, serta
dibangun atas unsur-unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga.

* dikutip dari : http://blog.kenz.or.id/

E bad thing about a relationship or friendship is that u have to face who u really are

Sunday, April 29th, 2007

I tell myself:

1. He isn’t e same person
2. You aren’t e same person either
3. Circumstances have changed, many people come n go
4. Im no longer needed .. so GO!
5. When I eat Maltesers, everything would be fine
6. It is better this way.
7. Grow up

Surat cinta yang tak akan pernah terkirim

Friday, April 27th, 2007

aku tau surat ini tidak akan pernah sampai di tanganmu, karena aku tidak pernah berniat untuk mengirimkannya.

aku hanya ingin bercakap-cakap dalam diam, aku ingin bicara dengan
angin, dengan pohon yang terangguk angguk menyetujuiku ataupun
bergoyang-goyang menolak mentah semua ideku. aku ingin berbicara dengan
nyamuk yang masih saja sibuk meskipun tanganku terkibas ke sana kemari,
dengan malam, dengan awan… semua tentang dia.

dia yang selalu out off your reach, dia yang selalu ada selangkah di
depanmu, dia yang tidak pernah terlihat mengerti kamu dengan lebih
mendalam, dia yang perlahan tapi pasti berubah jadi racun dan telah
lama tersimpan di jantungmu.

separuh dari dirimu menginginkan tangan dia untuk merengkuhmu dan
melindungimu. dan untuk kesekian kalinya dia jatuh cinta padamu, ingin
memilikimu seutuhnya, ingin selalu berada di dekatmu, ingin dan ingin
mendekapmu, sangat ingin menyusupkan kepala kecilmu ke dadanya, benar
benar berharap untuk menjadi bahumu di saat kau terpuruk dalam duka,
ingin bersorak dan tertawa riang dikala kau bergembira tanpa tau kabar
baik apakah itu. separuh dirimu ingin dia jatuh cinta padamu untuk yang
kesekian kalinya, tanpa dia harus menoleh membelakangimu. dan hidup pun
akan terasa lebih mudah bagi separuh dari dirimu.

tapi sisa dirimu ingin dia untuk datang padamu, menamparmu,
mendorongmu jatuh ke jurang paling nista dalam kehidupanmu, membuang
hatimu yang telah terlanjur berada di genggamannya, membencimu hingga
muak hingga dia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk
menggambarkan kemuakan yang dia rasakan terhadapmu. kamu ingin dia
untuk menertawakan kebodohanmu karena kamu bisa jatuh cinta seperti ini
padanya, menyalahkan kekhilafanmu sehingga kamu bisa lepas kendali dan
menyerahkan secuil hatimu padanya tanpa meminta segenggam hatinya
untukmu sebagai gantinya. betapa kamu menginginkan dia untuk datang ke
hadapanmu dan membencimu dengan seluruh sisa nafas yang dimilikinya.
hidupmu hidupnya akan terasa lebih mudah.

ah angin, andai hidup ini seperti tulisan. membeku di satu titik
tanpa adanya perubahan. maka kamu akan memilih hanya satu momen saja
dengannya, meskipun itu hanya satu momen berdurasi satu detik saja,
momen penuh keindahan dimana dia hanya untukmu dan tidak untuk hal lain
yang selalu sukses membuat dia memalingkan mukanya darimu.

kamu hanya ingin memiliki satu momen selama satu detik itu yang terbekukan dan abadi dalam hidupmu.

tapi nyamuk, hidup itu mengalir. dia tidak pernah bisa kamu
tundukkan, hidup menguasaimu, menguasai keinginanmu untuk membeku.
hidup ini selalu berubah, berkembang, memuai, dan melarutkan apapun
yang diam untuk ikut mengalir bersama arus agungnya yang penuh rahasia,
kejutan dan penuh kejujuran. kamu pun tidak terkecuali.

kamu sudah mempertaruhkan seluruhnya untuk apa yang kamu anggap
benar, kamu pertaruhkan seluruhnya untuk rasa cinta yang kamu anggap
merupakan kebenaran tertinggi yang bisa kamu capai. tapi kamu sekarang
takut.

kamu takut untuk menoleh kebelakang, menoleh kemudian berhitung, berhitung atas banyaknya pengalaman kamu dan dia.

cinta butuh dipelihara, bahkan cinta yang paling agung pun harus
selalu dipelihara. ya, cinta yang paling agung pun masih membutuhkan
mekanisme dari kamu supaya cinta itu dapat bertahan selamanya dalam
hati dan otak kamu  dan apalah artinya cinta kamu padanya dibanding
cinta agung tersebut.

cinta bukan suatu hadiah yang digantungkan di garis finish dan
kemudian dijadikan rebutan, tapi cinta telah ada semenjak kaki pertama
kamu melangkah untuk memilih. cinta selalu ada dalam setiap jejak
langkahmu, dalam setiap degup jantungmu, dalam setiap helaan nafasmu…
kamu selama ini berjalan beriringan dan bergandengan tangan dengannya
atas nama cinta… karena cinta adalah mengalami.

cinta adalah interaksi dari dua manusia supaya perubahan
masing-masing bisa dipantau dan tetap harmonis karena cinta bukan
sekedar berhala untuk disembah, tapi cinta pun tumbuh, mekar, mewangi
atau malah layu dan akhirnya menghilang… cinta itu hidup.

dan akhirnya di malam ini, di meja ini, kamu dikelilingi oleh semua
kenangan dan benda yang mengingatkan kamu akan dia. semua benda dan
kenangan yang tak ternilai harganya dalam kehidupanmu.

aku tidak heran jika kamu akan mulai tergugu dan menangis dalam sepi hanya bertemankan nyamuk dan angin.

Dia tidak pernah ingat utk menyimpan dirimu, dalam dompetnya, dalam
bingkai foto bapak presiden dan wapres, secuil foto utk ditempel di
pojok kanan atas cermin di kamarnya. dan bahkan dia pun tidak pernah
bersusah payah untuk menyimpan rupamu dalam hatinya. dia pasti tidak
tahu apa rasanya ketika menatap lekat-lekat satu sosok yang memenuhi
hatimu, mencoba membayangkan senyumnya dalam segala versi, rasa hangat
dari temperatur tubuhnya yang sangat kamu ketahui, dia tidak tau
rasanya.

dan kamu di sini, sendirian, berbagi semua kelemahan ini hanya
dengan angin yang mulai melemah meniupkan dayanya, dengan malam yang
secara pasti tergusur pagi, dengan nyamuk yang selalu menghindar dengan
gesitnya dan entah siapa berdiri di pojok itu.

hingga di detik ini, kamu berharap dia akan memahami betapa susahnya
berpisah dengan sesuatu yang aburb, dan kamu melakukan ini sendirian.
kamu mengucapkan perpisahan terhadap siapa?

tidak ada air mata laen yang ikut berduka untukmu, tidak ada tepukan
di bahu memaklumi kesedihanmu, tidak ada kata”jangan” yang kau harapkan
meluncur keluar dari mulutnya hanya supaya kamu bisa berbalik dan
memeluknya untuk kemudian tidak kau lepaskan lagi. tidak ada kata
berpisah atau peluk sayang untuk yang terakhir kalinya sebagaimana
tidak ada untuk yang pertama kalinya, tidak ada kata maaf yang kau
artikan sebagai penutup paling dramatis dari kesedihan yang absurb ini.

kamu merasa sepi dan ini adalah perpisahan paling sepi bagimu.

ketika surat ini sampai pada paragraf terakhir, tempat di mana kamu
letakkan semua doamu untuknya, semua pengharapan baik untuknya, masih
akan selalu ada secuil dari jiwamu yang tidak mau beranjak dari tepian
jurang ini, jiwamu itu akan tetap berharap dalam pengharapan absurb
bahwa ini semua hanyalah salah satu mimpi burukmu yang tidak akan
pernah berubah nyata.

dan kamu pun capek, capek dan tiada daya untuk memaksa sejumput
jiwamu itu untuk pergi bersama keseluruhan jiwamu yang laen, dan kau
pun membiarkan dia untuk bertahan di pengharapan absurbnya itu.

kamu tidak tahu akankah jiwa kecilmu itu akhirnya membenarkan
langkah pasrahmu untuk meninggalkan tepian itu dan kemudian ijwa kecil
itu meneriakkan namamu dan memintamu untuk menjemputnya ataukah dia
akan berubah menjadi lilin lemah yang akan selalu menjadi tujuanmu
untuk pulang dan kembali menemui tepian ini.

kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.

aku, yang merasakan apa yang kamu pikirkan dan rasakan.

aku, yang telah menuliskan dan menuangkan apa yang kamu rasa.

aku, yang tetap menuliskan beribu ribu surat cinta untukmu tanpa
pernah berani untuk mengirimkannya. surat surat yang masih tersimpan
dengan rapi dan tak akan pernah sampai ke tanganmu.

SURAT BUAT IBUNDA

Wednesday, April 25th, 2007

kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh

ingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang

mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang

ingin nanda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau

mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan

berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda

sesungguhnya tak jarang langkah nanda tersandung batu terhalang badai

tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar nanda ke seberang

kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga

ingin nanda ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam

tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata

tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah nanda

seperti pesan bunda,

nanda belajar dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh

nanda belajar dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar

tak pernah mudah, ibunda, tak pernah

jika sesekali nanda berhenti

nanda ingin bunda tahu bukan tuk menyerah

tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi

tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah

tapi nanda tak gentar

sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkah nanda

Jatuh Cinta Pada Bintang

Wednesday, April 25th, 2007

Malam ini langit begitu indah. Terhampar megah dibawah gelapnya
cakrawala. Mataku di manjakan oleh berjuta-juta bintang yang bertaburan
dipelukan rembulan. Mereka seolah tak mau berhenti berpijar. Menari
kesana kemari menghiasi angkasa malam yang hitam. Satu persatu, kulihat
dan kuperhatikan bintang2 itu. Ada yang kecil ada yang besar. Ada yang
terang ada yang redup. Sekali-kali, aku rangkaikan satu bintang dengan
bintang lainnya. Ada yang berbentuk layang2, ada yang berbentuk busur
panah, bahkan ada pula yang berbentuk kala jengking. Mereka sungguh
membuatku terkesima. Tapi, dari semua bintang disana, ada satu yang
begitu memikat hatiku. Dia sangat mempesona. Mulai malam ini, aku akan
menganggap satu bintang itu sebagai dirimu. Tahukah kau, aku sangat
senang sekali melihatnya. Karena satu bintang itu begitu terang,
berkilau, indah, seperti dirimu.

Teruntuk seseorang yang selalu menerangi hatiku..